Catatan Perjalanan untuk jadi Sarjana

Sudah tiga hari saya secara resmi menyandang status sebagai ‘sarjana’ lulusan biologi yang seharusnya berkompeten di bidang biologi. Saya hanya ingin merefleksi perjalanan agak panjang bagaimana saya bisa kuliah dan bisa jadi sarjana sains sekarang ini.

Pertama, sebelum melangkah terlalu jauh, perlu dijadikan catatan bahwa gelar seseorang itu tidaklah merupakan suatu patokan yang pasti mengenai tingkat intelektual dari seseorang. Ada orang yang megoleksi banyak gelar, namun tak mampu menunjukkannya dalam dunia nyata bahwa dia berkompetensi atau paling tidak bisa bersikap di masayarakat seperti sewajarnya.

Baiklah, kita mulai saja catatan perjalanan ini.

Bagian 1.
Aku lulus SMA dan aku ingin Jadi Dokter dengan masuk Fakultas Kedokteran, pernah mencoba UM di UGM dan universitas lain. Ternyata keberuntungan belum berpihak kepadaku. Di lain sisi, di saat yang bersamaan aku berpikir keras ketika menuliskan coretan di atas lembaran formulir PMDK di sekolahku, antara mengejar mimpi untuk menjadi dokter ataukah harus mnghadapi realitas bahwa orang tuaku belum sanggup untuk membiayaiku masuk dan yang pasti aku juga sadar diri bahwa kemampuan akademik yang pas-pasan merupakan modal nekat untuk daftar. Dengan pertimbangan utama adalah masalah biaya dan kecerdasanku, akhirnya ku putuskan untuk memilih jurusan yang paling tidak bisa ‘nyerempet’ dengan FK, dan nyasarlah keinginanku masuk Biologi, dengan alasan utama agar tidak ketemu matematika atau fisika lagi. Pengumuman PMDK keluar, akhirnya diterima sebagai Mahasiswa MIPA/Biologi -yang nantinya sangat aku syukuri dan banggakan-

Bagian 2.
Awal-awal masa kuliah kujalani dengan sedikit perjuangan lebih dibandingkan kawan-kawanku. Dengan memikirkan tunggakan kost yang tak kunjung dibayarkan, masalah keuangan keluarga yang semakin rumit dan dengan sepeda onthel pinjaman ibu kost (milik almarhum Suami Ibu kost) tiap pagi dengan agak semangat ku kayu sepeda itu melalui tanjakan dan turunan jalan Sumatra.
Kuliah awal serasa hampa, sekaan aku tidak punya tujuan yang jelas mengapa aku masuk dan kuliah disini. akhirnya dengan kemampuan pas-pasan aku mulai sedikit tersadar setelah mengetahui nilai semester awal di bawah angka standart keinginanku.  Dari titik ini aku mulai berusaha bangkit untuk memperbaiki diri dan belajar dengan lebih serius.. sementara setelah dipikir kembali ternyata masalah keluarga atau keuangan bisa menjadi bagaian tak terpisahkan dalam memperngaruhi mood belajar kita. Dengan pengalaman mengenai nilai tersebut akhirnya aku belajar untuk tidak mengecewakan kembali orangtuaku yang telah berusaha sebaik-baiknya agar aku bisa belajar dengan baik di universitas.

Rutinitas masuk kuliah dengan sepeda onthel terus ku jalani hingga beberapa waktu, seiring dengan itu jalinan teman antara kami sesama mahasiswa Biologi mulai terjalin dengan baik. Kawan terdekatku saat itu adalah Yuni, Kiki, Sulis, Anton, dan Mei. Kedekatan kami karena kami sama-sama suka jalan-jalan atau refresh tiap kali ada waktu senggang tiap akhir minggu.
Hobi jalan-jalan ini membawa berkah sekaligus dampak bagi jalannya proses belajar kami, di satu sisi kami bisa lebih menikmati masa kuliah ini, di sisi lain ternyata terkadang agenda jalan-jalan sedikit mengganggu aktivitas kuliah dan organisasi.

Jika ditanya, siapakah yang berjasa dalam “mengantarkanku” menjadi seorang sarjana dari awal aku akan tulis:
1. Orang Tuaku
2. Ibu Pliswati dan Mbak Puri sekeluarga yang membolehkanku numpang dan diberi fasilitas di rumahnya.
3. Kawan-kawan: Yuni yang sering Jemput, Kiki yang meminjami motor dalam waktu yang lama, kawan angkatan yang selalu memotivasi
4. Dosen Wali B.Mahriani yang sering “menanyakan kabar’
5. Dosen Pambimbing Skripsi
6. Yang ngasih Beasiswa
7. Dosen-dosen peneliti, Rekan-rekan dan sahabat seperjuangan satu Lab. (sebuah pilihan “besar” yang ku ambil untuk masuk dunia riset dan Laboratorium). Chebonk, Ubed, Hilda, Adi, Ima, Seagames, Bernet, Indah, Mbak Na.
8. Rekan organisasi yang mau mengerti kegiatan kuliahku
9. Banyak yang terlewat untuk disebutkan, tapi aku yakin bahwa banyak orang yang telah mengantarkanku sampai pada tahap ini..

Bersambung..

About

ordinary guys, trying to share simples stuff.. visit me at www.priatama.net

Posted in Beasiswa, Cerita, kuliah, sarjana
2 comments on “Catatan Perjalanan untuk jadi Sarjana
  1. Selamat ya Adit dah menempuh hidup baru jd sarjana! Smg ilmunya bisa segera diterapkan & bermanfaat utk masyarakat sekitar. Kpn ni kita makan2? :DBtw, konon kamu mau lanjut S2 KorSel ya? Kpn berangkatnya? Kita perpisahan dulu sini di Jkt😀

  2. Priatama says:

    Amien.. Makasih Putra.. :)Makan2.. he..he. kita makan2 tiap hari di tempat masing2 :)Selamat Berjuang Kawan..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: